“Anak-anak tidak dititipkan di hoikuen?” Tanya
seorang teman.
“Bagaimana ya…. Anak kedua saya masih
terlalu kecil. Kasihan.” Jawab saya.
“Memang umurnya berapa?”
“Sembilan bulan.”
“Sudah besar kan. Sudah bisa dititipkan.”
Sembilan bulan, sudah besar? Memang sudah
bisa dititipkan di hoikuen. Beberapa teman melakukannya. Tapi sebetulnya saya
punya banyak alasan untuk tidak menitipkan anak-anak ke hoikuen selain usia.
Alasan pertama dan utama, saya tidak punya
dasar kuat untuk menitipkan di hoikuen. Saya tidak bekerja, juga tidak kuliah.
Satu alasan ini saja sudah cukup untuk tidak menitipkan anak-anak. Perlu surat keterangan (someso
ya?) untuk dapat memasukkan anak-anak ke hoikuen.
Alasan kedua adalah usia tadi. Ada penelitian yang
menyebutkan bahwa bayi-bayi berusia di bawah satu tahun yang ditempatkan di
tempat penitipan anak selama 20 jam setiap pekannya, berkembang menjadi anak
dengan pribadi yang merasa tidak aman (curiga kepada orang sekitarnya). Mereka
juga menjadi seorang yang agresif, tidak penurut, dan menarik diri dari kawan-kawannya.
Terlalu ilmiah? Untuk mudahnya, saya belum tega menitipkan putri kecil saya
bersama orang lain.
Alasan lainnya adalah soal pulang dan pergi
ke hoikuen setiap hari, lima
hari seminggu. Saya malas membayangkan pergi pagi hari mengantar anak-anak,
menjemputnya lagi di sore hari. Musim semi dan panas, oke lah. Musim gugur dan
dingin? Repot membayangkannya.
Satu alasan yang sering saya pikirkan berkait
dengan doa untuk orang tua. Perhatikan artinya: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan
kedua orang tuaku, kasihanilah mereka dengan kasih sayang-Mu, sebagaimana
mereka telah mendidik dan memeliharaku sewaktu kecil. Sewaktu kecil! Dulu saya
sering bertanya apa hikmah doa ini. Saat ini, saya memaknai doa ini sebagai
balasan bagi orang tua atas perlakuan mereka terhadap anak-anaknya.
Saya sering merasa sedih jika memperlakukan
anak-anak dengan tidak semestinya. Berpikir, jika suatu saat mereka mendoakan
saya dan Allah SWT berkenan mengabulkannya, apa yang akan terjadi? Maka
sebenarnya, perbuatan yang saya lakukan pada anak-anak akan kembali kepada saya
nantinya. Egois ya? Memikirkan anak-anak padahal sebenarnya memikirkan diri
sendiri.
Buat saya, mengasuh mereka di rumah adalah
hal terbaik yang bisa saya lakukan. Tidak selalu di setiap saat saya bersama
mereka, saya melakukan hal yang baik. Ada
saja waktu di mana saya bersikap tidak semestinya (Astaghfirullah…) Tapi saya
berharap banyak waktu yang dijalani bersama anak-anak adalah saat-saat terbaik.
Seorang bijak mengatakan, hadiah terbaik bagi anak untuk memotivasinya adalah “waktu
luang bersamanya.” Hadiah terbaik bagi anak? Aahh.. itu hadiah terbaik bagi
saya juga.