“Ibu, boleh enggak makan zoo-san?” kata Hafiz satu hari.
“Eeehh?” saya memastikan kalau tidak salah dengar. Zoo-san, dalam bahasa Indonesia artinya gajah, boleh dimakan tidak?
“Boleh makan zoo-san enggak?” siaran ulang dari Hafiz.
“Mmm… boleh enggak ya?” saya berpikir keras. Siapa yang mau makan gajah? Berpikir berulang-ulang, mencoba mengingat-ingat, barangkali saja pernah ada informasi di satu daerah ada yang memakan gajah. Ada? Mmm…
“Boleh barangkali. Asal disembelih dengan menyebut nama Allah, boleh.”
Hafiz berhenti bertanya. Tapi sungguh, kepala saya tak berhenti berpikir. Boleh tidak makan gajah?
Dalam kesempatan kumpul keluarga, pertanyaan itu saya ajukan ke ayahnya. Tentu dengan mengatakan kalau itu pertanyaan dari Hafiz. Ada tidak orang dewasa yang menanyakan hal seperti itu? Ada, tapi bukan saya.
Boleh tidak makan gajah?
“Yaaa… kalau yang jelas gak boleh kan babi, anjing dan binatang buas.” Jawaban yang masih mengambang.
Apa perlu kirim email untuk bertanya ke ustadz di eramuslim, supaya tahu hukum syariahnya?
Terlalu berlebihan. Hafiz juga barangkali sudah cukup puas dengan jawaban pertama.
Buat saya, soal gajah ini masih jadi misteri.