eva's posts with tag: fukuoka

|  | Ohori park is a compact but nationally famous park built around an artificial lake that was once part of the moat of Fukuoka castle. Opened in 1929 it has a Chinese theme, (it is modeled on the Xi Hi lake in China) and it is possible to walk across the centre of the lake on a series of Chinese style bridges and small islands. Although close to the centre of the city, the park manages to be lushly green most of the year round and provides a pleasant haven from the concrete of Tenjin. There is a boathouse from which one can hire rowing boats and a famous French restaurant - "Hana no ki".
After a walk around the moonlit castle grounds what could be more pleasant than to sit in the shade of large tree and look out over the lake, before dinner in a good restaurant?
In the evenings the 2.2 km path around the lake proves irresistable to hordes of joggers and at weekend it can become downright crowded. In neither case does it ever become unpleasant.
Late at night, the view across the lake towards the floodlit Fukuoka Tower is rather splendid.
The park hosts a magnificent fireworks display in August and is descended on by Fukuokans in their thousands in Cherry Blossom season...
~ketauan malesnya, copy paste dari situs kyushu.com~ |

|  | Hafiz menyebutnya dengan perosotan panjang. Taman bermain baru di dekat rumah. Baru dibuka bulan Mei. Mainannya baru, jalanannya baru, lapangannya baru, termasuk juga tanamannya.
Mainannya banyak. Dari yang standar, seperti perosotan dan jungkat-jungkit, sampai ke yang aneh dan baru pertama kali ketemu seperti kursi yang berputar. Sayangnya tidak ada ayunan.
Tapi beberapa kali main ke sana, kenapa selalu sepi ya? |
Penjual di Fukuoka gemar memberikan harga yang tak dibulatkan ke ratusan. Contohnya 389, 499, 588, 999. Nilai ini adalah harga barang langsung dengan pajaknya. Beberapa tahun lalu, harga yang tercantum di barang adalah harga sebelum kena pajak. Jika konsumen membeli barang dengan harga total yang tidak bulat, misalnya 5098, maka yang ia bayarkan sebesar itu juga. Tidak dibulatkan hingga 5100 yen. Dan ia akan menerima kembalian 2 yen jika membayar 5100. Belum pernah ditemui, konsumen diberi kembalian permen karena tidak ada pecahan yang mewakili. Beberapa kali pikiran saya terjebak dengan harga itu. Harga 389, dalam pikiran saya lebih dekat ke 300 yen daripada 400. Ini berpengaruh saat mencoba menghitung total belanjaan, yang biasanya untuk mempermudah adalah dengan melakukan pembulatan.
 | Donat | Oct 26, '07 9:58 AM for everyone |
Halal bihalal keluarga muslim di Fukuoka hari Ahad lalu. Tugas saya adalah membuat donat mini. Bukan tugas yang sulit, saya pikir. Membuat donat sudah sering saya lakukan. Untuk keperluan sendiri, pengajian di rumah, TPA, dan buka puasa bersama akhir Ramadhan lalu. Lagipula ada mesin home bakery yang mempermudah proses pembuatan adonan.
Hari Sabtu pagi berbelanja keperluan memasak. Tak perlu melihat resep lagi, kan sudah biasa. Jadi pagi itu selain membeli sayuran, camilan dan telur, saya membeli tepung dua bungkus yang masing-masingnya satu kilogram dan satu kemasan butter. Saya berencana membuat tiga adonan. Tiap adonan perlu empatratus gram tepung dan enampuluh gram butter. Bahan lain, gula dan garam juga ragi sudah menjadi persediaan di rumah sejak lama.
Sore hari, saya menanyakan persediaan ragi pada ayah, orang yang sering membuat adonan pizza dan roti. Beliau juga yang membeli ragi di toko bahan makanan dan bumbu Asia. Yang ditanya ternyata tidak tahu pasti. Saya memastikan dengan melihat langsung di lemari. Syukurlah, ternyata masih ada dua bungkus lagi. Cukup untuk membuat adonan besok. Repot kalau kehabisan. Toko penjualnya jauh dari rumah, tutup pula di hari Sabtu. Besok mulai membuat adonan pagi-pagi, supaya siang bisa selesai.
Tengah malam terbangun. Entah kenapa sulit untuk tidur. Pergi ke dapur, dan membuat susu hangat. Melihat ke lemari karena ingat, rasanya gula bubuk untuk taburan sudah habis terpakai bulan Ramadhan lalu. Melihat isi lemari, memindahkan beberapa barang, dan memang benar, saya lupa membeli gula bubuk. Siang nanti harus membeli di supermarket terdekat.
Pagi hari, waktunya membuat adonan. Ragi, gula, tepung, garam dan butter sudah masuk. Tinggal telur dan susu. Membuka kulkas dan melihat dengan terkejut: ternyata saya lupa membeli susu!
Pelajaran untuk lain kali. Perlu melihat resep dengan seksama, dan memastikan satu persatu bahan sudah tersedia.

|  | Saya selalu suka hanabi. Paling tidak sampai tadi malam saat ada hanabi di pantai Kashii.
Berdasar pengalaman, memotret hanabi adalah pekerjaan yang sulit. Itu untuk seorang amatir seperti saya. Begitu jepret, hanabinya sudah hilang. Yang tersisa cuma asap dan kegelapan. Atau saat ada hanabi yang bagus, yang tampil di kamera adalah titik-titik tidak jelas sisa kembang apinya.
Pantai Kashii sendiri sudah banyak berubah dari keadaan 4 tahun yang lalu. Sekarang sudah banyak pohon yang terkadang menghalangi pemandangan. Bukan pohonnya yang salah, penontonnya yang terlambat datang jadi tak bisa menemukan posisi enak untuk melihat dan memotret.
Hafiz sangat senang menyaksikan kembang api. Awalnya Zahra terkaget-kaget mendengar dentumannya, tapi kemudian bisa menikmati setelah pindah ke tempat yang agak jauh. Saya? terlalu sibuk memotret, banyak momen hanabi terlewat karena bolak balik mengurusi kamera.
|

|  | Jalan-jalan ke Yanagawa, masih satu daerah dengan Fukuoka. Wisata yang paling menarik adalah berkeliling dengan perahu, namanya 'donkobune.' Kabarnya, proses restorasi di tahun 1987 dijadikan sebuah film dokumenter oleh Studio Ghibli. |
Gadis kecilku,
kenapa kemarin siang tidurmu sedikit? Tidakkah badanmu kelelahan karena
berjalan-jalan bersama ibu?
Sepanjang hari
kemarin mendung. Siang bahkan gerimis datang. Tapi Ibu hendak ke Azhar,
berbelanja. Berdua, kita bersepeda. Gerimis kecil masih menemani saat
berangkat. Sampai di ryuugakusei kaikan, ternyata tak ada tanda-tanda kalau
Tante dari Azhar berjualan. Kita ke rumah teman Ibu saja, mengantar donat yang
tadi Ibu buat.
Ke Jusco dulu
sebentar. Masih mendung, sedikit dingin. Tapi gerimis sudah usai. Di Jusco, kau
naik kereta dorong. Enak ya, berjalan ke sana
ke mari. Badanmu sudah terlalu lelah, cuaca juga mendukung, dan matamu tertutup
saat Ibu selesai berbelanja.
Ibu sempat bingung
hendak pulang naik apa. Bis sajakah, dan biarkan sepeda diambil ayah nanti.
Atau kita tetap bersepeda, toh hujan tidak jadi menyapa. Akhirnya kita tetap
bersepeda. Kepalamu bertelekan lengan Ibu. Tak apa, meski hanya tangan kanan
yang membawa sepeda.
Sampai di rumah,
kau terbangun. Kaget ya, mendengar tangisan kakak yang mengantuk? Dan kantukmu
langsung menghilang. Badanmu sudah segarkah dengan tidur yang hanya sebentar
itu? Bermain-main, riang merayap ke mana-mana.
Tak apa-apa kan, kalau Ibu menemani
sambil beristirahat? Sore hari kita
berbelanja lagi ya.. pergi ke Friend shop membeli buah dan sayuran dengan harga
lebih murah daripada tempat lain. Kapan terakhir kali Ibu ke Friend shop? Sudah
lama sekali. Sebulan, atau dua bulan lalu barangkali. Padahal setiap sabtu sore
ada potongan harga di sana.
Kau naik kereta,
dan Ibu mendorong. Berjalan kaki saja, tokonya tak sampai 500 meter dari rumah.
Di jalan, ada nenek dan kakek yang tersenyum melihat tingkahmu. Mungkin gemas
melihat gadis kecil berusia 10 bulan yang gendut dan lucu. Kenapa tokonya sepi?
Tak ada sepeda berjejer di depan toko. Ah, rupanya golden week ini Friend Shop
pun libur. Belanja kita hari ini ternyata tidak sukses ya.. Akhirnya seperti
biasa, belanja di Nakamura.
Ibu pikir kau akan
tertidur di keretamu. Ternyata tidak. Wajahmu masih tetap ceria saat sampai di
rumah. Malam nanti tidur yang nyenyak ya..
Malas pergi. Sudah dibatalkan, tapi kemudian akhirnya jadi pergi.
Ke Kaizuka koen. Untuk pertama kali setelah sebelumnya hanya lewat dan melongok dari jalan. Koen yang besar, tapi sepi. Mungkin karena hari kerja. Adik kelihatan mengantuk. Seperti biasa, sambil menggendong Ibu berjalan menemani Kakak yang lincah ke sana sini.
Ada kereta asli. Tapi tangganya dibatasi tali. Tidak bisa dinaiki. Padahal Kakak berkeras mau naik. Kakak berlari ke arah playground. Kemudian naik ke playground dari semen yang tingginya mungkin 2 meter. Kelihatannya berbahaya untuk anak usia 3 tahun.
Di bagian ayunan ada ibu dengan seorang anaknya. Untunglah, paling tidak kami tidak sendirian di koen ini.
Kakak turun dari playground semen besar lewat perosotan. Tinggiii.. saat sampai di tanah seperti terhempas. Cuma naik sekali saja karena Ibu bilang berbahaya. Kakak sendiri kelihatan malas naik lagi.
Terus bermain, berkeliling. Naik turun, lewat tangga, lewat perosotan. Ibu menggendong Adik yang tidur. Berat.
Kakak baru mau keluar taman setelah dibujuk pergi ke daiso.
Basu tei nya di seberang jalan. Harus menyeberang melewati tangga penyeberangan. Dalam perjalanan keluar taman, adik ternyata bangun.
Ada bis 23 yang baru lewat. Kemudian lewat bis no 4. Setahu Ibu bis no 23 lewat depan Yamda denki, satu gedung dengan daiso.
Ayo, kita naik saja. Percaya diri Ibu menggandeng Kakak. Terdengar kata-kata Chihaya eki mae.. eeeeee? Chihaya eki? Bis ini lewat chihaya eki? Berarti tidak lewat yamada denki? Bagaimana ini?
Sampai di najima, masih percaya diri. Lihat saja nanti.
Lewat chihaya. Eeeeeehhhh… kok belok kanan? Aduuuhhh… bagaimana ini?
Kakak menguap. Waaaahhh…. Jangan tertidur di bis.
Berputar di chihaya eki. Sudah ini ke mana? Akan turun di mana? Nishitetsu kashii? Eehhh… bis ini berhenti terakhir di mana?
Sepertinya ini arah jalan ke rumah Nomiyama san. Aaahhh itu berarti jauh sekali. Depan Haloday, bis berhenti. Turun sini saja. Tergopoh-gopoh turun. Rasanya sisa kartu bis hanya sedikit. Cukup tidak ya untuk bayar ongkos bis? Bersiap mengambil uang receh. Tapi kemudian sopir bis mengatakan tidak perlu (sort of, I don’t really understand Japanese).
Oo oo… melihat sekeliling. Di mana ini?
Menyeberang dibantu tukang parkir haloday. Hei… basu tei arah sebaliknya di mana? Mau bertanya, tapi malas juga. Bagaimana bahasa jepangnya? Mengirim email ke ayah.
Salah naik bis. Mau ke yamada denki naik apa dari mizutani? Tadi dari kaizuka naik no 4.
Ayah tentu harus mencari informasi lewat internet. Perlu waktu. Sambil menunggu, mencari basu tei.
Jalan ke arah kanan saja. Teruusss… menyeberang. Eh.. kalau terlalu jauh malah repot nanti. Kembali lagi ke haloday. Berniat bertanya arah ke tukang parkir tadi.
Tapi… ah, sudahlah.
Capek dan berat menggendong. Kasihan juga Kakak yang kelelahan usai bermain.
Episode salah naik bis diakhiri dengan…… pulang naik taksi.
“Anak-anak tidak dititipkan di hoikuen?” Tanya
seorang teman.
“Bagaimana ya…. Anak kedua saya masih
terlalu kecil. Kasihan.” Jawab saya.
“Memang umurnya berapa?”
“Sembilan bulan.”
“Sudah besar kan. Sudah bisa dititipkan.”
Sembilan bulan, sudah besar? Memang sudah
bisa dititipkan di hoikuen. Beberapa teman melakukannya. Tapi sebetulnya saya
punya banyak alasan untuk tidak menitipkan anak-anak ke hoikuen selain usia.
Alasan pertama dan utama, saya tidak punya
dasar kuat untuk menitipkan di hoikuen. Saya tidak bekerja, juga tidak kuliah.
Satu alasan ini saja sudah cukup untuk tidak menitipkan anak-anak. Perlu surat keterangan (someso
ya?) untuk dapat memasukkan anak-anak ke hoikuen.
Alasan kedua adalah usia tadi. Ada penelitian yang
menyebutkan bahwa bayi-bayi berusia di bawah satu tahun yang ditempatkan di
tempat penitipan anak selama 20 jam setiap pekannya, berkembang menjadi anak
dengan pribadi yang merasa tidak aman (curiga kepada orang sekitarnya). Mereka
juga menjadi seorang yang agresif, tidak penurut, dan menarik diri dari kawan-kawannya.
Terlalu ilmiah? Untuk mudahnya, saya belum tega menitipkan putri kecil saya
bersama orang lain.
Alasan lainnya adalah soal pulang dan pergi
ke hoikuen setiap hari, lima
hari seminggu. Saya malas membayangkan pergi pagi hari mengantar anak-anak,
menjemputnya lagi di sore hari. Musim semi dan panas, oke lah. Musim gugur dan
dingin? Repot membayangkannya.
Satu alasan yang sering saya pikirkan berkait
dengan doa untuk orang tua. Perhatikan artinya: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan
kedua orang tuaku, kasihanilah mereka dengan kasih sayang-Mu, sebagaimana
mereka telah mendidik dan memeliharaku sewaktu kecil. Sewaktu kecil! Dulu saya
sering bertanya apa hikmah doa ini. Saat ini, saya memaknai doa ini sebagai
balasan bagi orang tua atas perlakuan mereka terhadap anak-anaknya.
Saya sering merasa sedih jika memperlakukan
anak-anak dengan tidak semestinya. Berpikir, jika suatu saat mereka mendoakan
saya dan Allah SWT berkenan mengabulkannya, apa yang akan terjadi? Maka
sebenarnya, perbuatan yang saya lakukan pada anak-anak akan kembali kepada saya
nantinya. Egois ya? Memikirkan anak-anak padahal sebenarnya memikirkan diri
sendiri.
Buat saya, mengasuh mereka di rumah adalah
hal terbaik yang bisa saya lakukan. Tidak selalu di setiap saat saya bersama
mereka, saya melakukan hal yang baik. Ada
saja waktu di mana saya bersikap tidak semestinya (Astaghfirullah…) Tapi saya
berharap banyak waktu yang dijalani bersama anak-anak adalah saat-saat terbaik.
Seorang bijak mengatakan, hadiah terbaik bagi anak untuk memotivasinya adalah “waktu
luang bersamanya.” Hadiah terbaik bagi anak? Aahh.. itu hadiah terbaik bagi
saya juga.

|  | Satu sisi Fukuoka, dari Takashuma. Sungai di bawah adalah tataragawa.... |

|  | Bunga....bunga....bunga... |
| |