eva's posts with tag: jepang
Saat ini ada sekitar 118,500 mahasiswa asing di Jepang. Tahun 2020 diharapkan akan ada 300,000 mahasiswa dari luar Jepang yang melanjutkan kuliah di universitas-universitas di Jepang. Tidak bisa berbahasa Jepang? Jangan khawatir. Akan ada 30 perguruan tinggi yang berencana membuka program khusus dalam bahasa Inggris. Sekedar bocoran, saat ini tidak banyak penduduk Jepang yang bisa berbahasa Inggris. Jadi jika ingin mampu bersosialisasi dengan penduduk asli, kemampuan berbicara dalam nihon go tetaplah sebuah keniscayaan untuk dikuasai. Barangkali ini juga menjadi salah satu alasan kenapa beasiswa monbusho jumlahnya turun dari tahun ke tahun. Dengan total dana yang sama, diharapkan ada lebih banyak mahasiswa yang diberi beasiswa untuk kuliah. Ada yang menuding rencana menambah jumlah mahasiswa asing ini adalah sebuah upaya untuk mengatasi berkurangnya jumlah angkatan kerja karena menurunnya tingkat kelahiran. Bagaimana pun, berita ini semoga saja menjadi kabar baik untuk mereka yang memang benar-benar berminat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

|  | "Ayo, siap-siap. Satu..dua...tiga.." Dan episode seperti ini berulang terus: "Eeehh.... ulangi, tadi lagi merem." "Zahra, liat ke kamera, dek." "Udah? Kok, gak kerasa?" "Hafiz, tangannya jangan nutupin mulut dong.." "Eeehh.. Zahra mau kemana?" Klik. Tidak ada wajah Zahra di layar. "Yaa.. tangannya tadi lagi ngusap rambut." "Lhoo... kok matanya meleng sih?"
|
Jepang ada di urutan kelima negara teraman di dunia untuk tahun 2008, di bawah Iceland, Denmark, Norwegia dan Selandia Baru. Urutannya diperoleh berdasarkan perhitungan indikator terkait seperti tercantum dalam Global Peace Index.
Indonesia ada di mana? scroll down terussssss sampai di nomor... 68. Posisi yang persis ada di bawah China, di atas Mesir. Jauh lebih tinggi daripada Amerika Serikat yang ada di urutan 97. Kok bisa? Karena Amerika Serikat terlibat dalam perang dengan negara lain. Juga karena negara ini dianggap sebagai negara yang besar kemungkinan jadi sasaran teroris. O iya, katanya, kalau saja Jepang tidak terlibat dalam perang di Irak, posisinya bisa naik di nomor 1.

|  | Food photography adalah pekerjaan yang sulit. Jika memasak sendiri, artinya pekerjaan ini melibatkan tiga profesi sekaligus : koki, food stylish dan photographer. Karena masih belajar memotret, gampang dipahami kalau pencahayaannya buruk. Cita rasa seni saya juga tidak terlalu baik. Tapi yang paling berperan membuat jelek hasil foto (yang saya ambil) adalah, saya tidak bisa memasak.
(note: muffin dan nasi mesir adalah hasil beli di Nabi-san) |

|  | Alasan lain kenapa saya senang memotret bunga. Ini bunga pinggir jalan bagian kedua. |

|  | Memetik strawberry di hari terakhir. Kabarnya sore itu juga tanamannya mau dibabat habis. Sayang sekali. Padahal strawberry matangnya masih banyak. Manis-manis lagi. Barangkali sudah tidak terlalu menguntungkan untuk dipelihara.
Kata penjaganya, strawberry terbaik, paling manis, dipanen di bulan Desember. Lima kali panen, kemudian baru dibuka untuk umum memetik sepuasnya. Bayar dengan harga dua pak strawberry di supermarket untuk satu dewasa, makan sebanyak-banyaknya. Sebetulnya tidak terlalu jauh berbeda dengan beli di supermarket. Berapa banyak sih, kemampuan seseorang makan strawberry?
Tapi pengalaman memetik strawberry sendiri, berada di tengah kebun, makan langsung buah yang baru dipetik, adalah hal yang berharga.
Enaknya kalau bisa sering-sering ichigo gari.. |

|  | Katanya ini salah satu parade terbesar di Jepang. Tertarik menonton? well, think again. Kemungkinan besar yang anda lihat hanyalah kerumunan orang. |
Saya senang berbelanja ke supermarket pagi-pagi. Resminya, marukyo buka jam sepuluh pagi. Tapi jam sembilan sudah bisa dipakai untuk berbelanja. Pagi hari itu kasirnya hanya satu orang. Tapi pembelinya juga masih belum banyak. Dan itu salah satu alasan kenapa belanja pagi menyenangkan. Belanja pagi hari juga punya sisi lain. Kita memilih barang sambil memperhatikan karyawan lalu lalang memasukkan barang jualan di raknya. Seorang pria berkacamata menurunkan barang dari truk pengangkut, mengangkatnya ke troli dan membawanya ke dalam. Pria berpostur pendek mengurusi sayuran dan bunga. Membawa kardus buah dari gudang, memindahkan keranjang bunga, dan menyusun sayuran di rak saji. Hari Senin, pria berkacamata mengangkat barang ke troli dan membawanya ke dalam. Bolak balik. Pria berpostur pendek juga ditemui di bagian sayuran. Hari Selasa, kedua orang itu juga mengerjakan hal yang serupa. Rabu, masih begitu juga. Kamis, Jumat, Sabtu dan bahkan, Ahad juga, mereka melakukan hal yang tidak jauh berbeda. Kasihan sekali. Marukyo hanya tutup dua hari di awal tahun. Dua hari! Artinya dalam setahun ada hari kerja selama tigaratus enam puluh tiga hari. Wow.. Saya membayangkan kedua orang itu bekerja -menurunkan barang, mengangkat barang, menyusunnya di rak- bolak balik. Setiap hari selama tiga ratus enam puluh tiga hari. Barangkali saya berlebihan. Tentu saja mereka punya hari libur. Akan sangat tidak manusiawi jika tidak ada. Barangkali hanya kebetulan saya sering melihat – hampir selalu bertemu mereka- saat berbelanja. Saya juga kan tidak berbelanja setiap hari. Jepang memang kekurangan tenaga kerja. Di supermarket itu saja, setiap hari ada lowongan kerja paruh waktu yang dibuka. Belum lagi di tempat lain. Masuk akal jika banyak karyawan yang bekerja hingga larut malam, bahkan dini hari. Salah satu yang sering diungkap sebagai alasannya adalah etos kerja yang tinggi. Tapi juga tidak bisa mengesampingkan fakta bahwa hanya ada sedikit orang untuk tugas yang banyak. Di tempat lain (baca: negara lain), pekerjaan yang ada mungkin dilakukan oleh dua orang. Tapi di sini, karyawan harus mengerjakannya sendiri.
Saya tidak mengerti kenapa Abu Hafiz menolak untuk menelepon KBRI. Beliau malah meminta saya untuk menanyakan soal surat keterangan lahir Yasin ke bagian konsuler di Tokyo. Merasa memiliki kemampuan berkomunikasi lewat telepon yang rendah, jadi saya menolak juga awalnya. “Coba telepon ke KBRI,” kata beliau satu waktu. “Gak tau nomor teleponnya,” ini cara saya untuk mengelak dari tugas. Saya tahu kalau ini bukan cara yang cerdas. “Di situsnya ada,” kata beliau lagi. “Susah buka komputer, lagipula enggak tau alamatnya,” cara kurang cerdas yang lain untuk menghindari tugas. Dan kemudian saat beliau ada di kampus sebuah email sampai ke hp saya. Dari Abu Hafiz, memberitahu nomor telepon KBRI. Kenapa tidak menelepon sendiri? ** Saya menelepon. Hari Jumat, lewat jam sebelas. Tak ada yang mengangkat. Syukurlah. “Udah telepon, gak ada yang angkat.” Tulis saya di email. “Coba telepon lagi.” Saya pikir tugas saya sudah selesai dengan mencoba menelpon satu kali. Sekitar jam dua belas saya menelpon lagi. “Sirakan terepon kembali jam setengah dua.” Suara di seberang. Saya menduga yang menjawab adalah orang Jepang. Hebat sekali, bisa berbahasa Indonesia. Jam dua saya menelepon. Operator yang menerima berbahasa Indonesia. Kali ini fasih, tanpa logat yang aneh seperti orang pertama. Saya diminta menunggu. Dan mengalunlah lagu yang biasa ada di mainan anak-anak: Mary Had a Little Lamb. Mary had a little lamb, little lamb, little lamb Mary had a little lamb, little lamb, little lamb Satu menit. Lagu itu sudah diputar berkali-kali. Dua menit. Saya masih memegang gagang telepon. Tiga menit. Telinga saya masih mendengar nada mary had a little lamb. Dan putri kecil saya menangis. Empat menit. Masih juga mary had a little lamb, little lamb, little lamb. Rasanya saya paham kenapa suami mendelegasikan tugas ini ke istrinya. Pasti gara-gara mary yang punya domba kecil itu.

|  | Pagi ini berkunjung ke Maizuru Koen. Tahun lalu sukses menyaksikan plum yang mekar di taman ini. Sekarang, ternyata kami datang terlalu awal. Sebagian besar belum mekar, meski kuncupnya pun sudah sangat indah dipandang.
note: album ini akan sangat membosankan untuk mereka yang tak menyukai bunga. |
Berapa kecepatan tertinggi yang pernah dicapai sebuah shinkansen? Dalam sebuah percobaan di tahun 2003, kecepatan tertinggi yang pernah tercatat adalah 581 km per jam. Teknologi yang dipakai berbeda dengan yang sekarang diterapkan. Menggunakan kekuatan magnet yang kuat, shinkansen tak memerlukan bantuan roda saat mencapai kecepatan tertentu. Bukan berarti shinkansen jenis ini tak memiliki roda. Tapi rodanya akan masuk ke dalam, mirip roda pesawat yang naik saat sudah mencapai ketinggian tertentu usai tinggal landas. Dan sisa perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kekuatan magnet yang kuat itu. Keren. Jika shinkansen ini sudah menjelma menjadi kendaraan yang boleh mengangkut penumpang, perjalanan Osaka – Tokyo akan lebih cepat dari biasanya. Kemungkinan akan dicapai dalam waktu kurang dari dua jam. Nozomi 100 Tipe N700 yang baru diresmikan Juli 2007 kecepatan maksimumnya 300 km/jam. N700 mampu menghubungkan Tokyo – Osaka dalam waktu tempuh maksimum 2 jam 25 menit. Tokyo – Hakata (yes, it’s in Fukuoka) akan ditempuh dalam waktu 4 jam 50 menit. Kereta ini memang masih dalam tahap percobaan. Para peneliti kabarnya masih berusaha menyempurnakan teknologinya. Begitu pun, masih perlu persetujuan dari pemerintah untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Pembangunan rel yang berbeda dengan yang biasa akan memakan dana yang besar. Belum pernah merasakan naik shinkansen. Barangkali ini memalukan mengingat sudah dua tahun saya tinggal di Jepang. Ah, tidak, ini bukan aib. Tak akan ada pertanyaan soal shinkansen di akherat nanti. Saya membayangkan betapa cepatnya kereta ini melaju. Dan perjalanan tak bisa lagi dinikmati. Pohon di pinggir rel, bangunan-bangunan di setiap tempat yang dilewati, mobil-mobil yang lalu lalang di jalan. Bagaimana caranya menikmati perjalanan jika apa yang dilihat di luar hanya bisa diperhatikan dalam sekejap mata? Oh, naik saja mobil kalau begitu. Bisa menikmati pemandangan dalam waktu yang cukup. Kecepatan 581 km/jam.. Ini membuat penjelasan soal isra mi’raj jadi lebih dipahami di jaman yang serba cepat seperti sekarang ini ya? Entah ada hubungan atau tidak. Yang terpatri dalam benak adalah sebuah pertanyaan. Tak bisakah kita menikmati hidup dengan cara yang lebih sederhana? ** Hasil dari menemani seorang penggemar berat shinkansen menonton youtube. Belajar sambil bermain bukan hanya berlaku untuk si anak, ibunya juga tambah pengetahuan.

|  | There is space shuttle and two little astronauts roller coasters carrousel 4D theater and much more
also.. a pregnant woman who just can watch others play *cries*
tired... but lots of FUN
|
 Masih lanjutan perbincangan soal sekolah dengan teman, kali ini dengan topik berbeda. "Kata anak saya, 'Sekolah di Jepang enak, Ma, lebih santai.' Pelajarannya lebih mudah barangkali ya?" kata seorang teman. Saya jadi ingat komentar teman yang lainnya soal sekolah di Jepang. Katanya, "Pelajaran kelas satu di Indonesia itu, jadi pelajaran kelas tiga di sini (Jepang)." Soal pelajaran kelas satu menjadi kelas tiga itu, tentu saja subyektif. Yang perlu dicatat dari komentar itu adalah bahwa pelajaran di sekolah dasar Jepang lebih mudah daripada di Indonesia. Apa benar begitu? Saya --yang tidak pernah menikmati pendidikan dasar di Jepang-- tentu tidak bisa menjawab. Yang saya tahu, bahwa ada perbedaan orientasi pendidikan antara Jepang dan Indonesia. Berdasar tulisan Ibu Ratna Megawangi, sistem pendidikan di Indonesia hanya untuk menyiapkan para siswa untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi, atau hanya untuk mereka yang memiliki bakat pada potensi akademik (bobot IQ tinggi). Sistem pendidikan ini mengacu pada sistem pendidikan di Amerika Serikat yang lebih mementingkan bagaimana menyiapkan 10 persen penduduk terpandai. Hal ini berbeda dengan Jepang. Jepang justru sebaliknya, yaitu lebih mementingkan untuk menyiapkan 50 persen penduduk terbawah (dalam hal IQ) untuk disiapkan menjadi tenaga kerja yang handal. Mereka yang sangat tinggi kemampuan akademisnya (yang populasinya tidak lebih dari 15%), akan masuk ke perguruan tinggi setelah melewati ujian yang cukup ketat. Masih menurut Ibu Ratna, sistem pendidikan di Indonesia sebenarnya justru untuk menyiapkan seluruh siswa untuk menjadi ilmuwan dan pemikir (filsuf), sehingga seluruh pelajaran dirancang sedemikian rupa sulitnya, karena itu hanya dapat diikuti oleh 10 hingga 15 % siswa terpandai saja. Jepang, dengan fokus pada 60% persen terbawah, lebih menyiapkan para sisiwa dengan pendidikan ketrampilan. Setiap teknologi baru, dapat dengan mudah ditiru dan diproduksi di mana saja. Sedangkan pekerja yang trampil dan handal, yang menjadi ujung tombak produktif untuk menghasilkan produk teknologi apa saja, merupakan kelebihan yang sulit ditiru.

|  | Satu sisi Fukuoka, dari Takashuma. Sungai di bawah adalah tataragawa.... |

|  | Jalan-jalan keluarga ke Huis ten Bosch di Nagasaki. Melihat nuansa Belanda di sana. Serasa di Belanda? enggak lah... pengunjungnya banyak nihon jin kok. Saya juga belum pernah ke Belanda, jadi tidak ada bayangan bagaimana rupa Belanda sebenarnya. |

|  | Bunga....bunga....bunga... |
| |