:: Beyond Dreams ::

eva's posts with tag: pustaka

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pustaka
Blog EntryMenjadi Orang Tua Itu MenyenangkanAug 12, '08 4:06 AM
for everyone
Para orangtua harus diberitahu bahwa membesarkan anak itu menyenangkan. Karena itu adalah hal yang sebenarnya terjadi. Ungkapan itu diberikan oleh Yoko Sagae pada Judith Kawaguchi, wartawan Japan Times.

Yoko Sagae adalah kepala sekolah sebuah taman kanak-kanak di Tokyo. Ia telah mengasuh lebih dari 1700 anak - dan orang tua mereka- selama 31 tahun keterlibatannya dalam pendidikan anak usia dini.

Banyak hal yang diungkapkan oleh Yoko Sagae. Salah satunya adalah bahwa anak-anak selalu punya alasan untuk menangis. Biasanya perilaku orang dewasa lah yang menyebabkan mereka marah dan terluka. Kita seharusnya mendengarkan lebih banyak dan mengurangi kemarahan.

Ibu kepala sekolah yang disenangi orang-orang di lingkungannya itu juga mengungkapkan bahwa belakangan ini semakin banyak anak-anak yang mencari perhatian orang lain. Anak-anak ini biasanya mudah dikenali saat pertama kali bertemu. Ada saja perbuatan tidak biasa yang mereka lakukan untuk menarik perhatian. Penyebabnya biasanya adalah kekurangan kasih sayang di rumah. Pelukan biasanya akan membantu anak-anak ini untuk kembali merasa nyaman dan rileks.

Menurut Sagae, orangtua harus konsisten dengan peraturan yang mereka miliki. Saat orangtua mengeluh anak-anak tida menuruti perintah mereka, sangat mungkin itu adalah kesalahan orang dewasa. Orangtua sering sekali cepat mengubah kebijakan mereka, tergantung jadwal yang mereka miliki. Anak-anak tidak bisa mengikuti pola ini.

Sagae juga menekankan pentingnya seorang ibu berada di rumah paling tidak hingga anaknya berusia 3 tahun untuk menyediakan makanan bergizi bagi keluarga. Kemampuan merasakan berbagai rasa makanan dipelajari sejak bayi dan akan terbentuk saat anak berusia 3 tahun. Karena itulah peran penting ibu diperlukan.

Sesuatu yang dipandang sebagai ‘bullying’ terkadang sebenarnya bukan, kata Sagae. Di dunia orang dewasa, saat kita menikmati makan malam dan sedang asyik berbincang-bincang, kita tak ingin ada orang ketiga yang tiba-tiba datang dan terlibat. Tapi kita mengharapkan anak-anak untuk tidak egois, menjadi orang yang sempurna dan selalu mengijinkan anak lain untuk bermain dalam permainan yang mereka lakukan.

Yoko Sagae, yang merasa bersyukur memiliki anak dan suami yang selalu membuatnya merasa muda dan gembira, mengatakan bahwa berada di rumah sama baiknya dengan bepergian. Dunia ini sangat besar, bahkan di dalam rumah. Contohnya, menanam bunga atau menanam kacang, menikmati upacara minum teh, memasak dan merayakan sesuatu adalah kegiatan yang tidak membutuhkan biaya banyak dan sangat mudah dikerjakan. Orangtua sering berasumsi bahwa pergi ski atau mengunjungi ‘theme park’ sangat menyenangkan untuk anak-anak mereka, tapi sebenarnya berbagi hal-hal kecil yang membahagiakan adalah juga sama pentingnya untuk keluarga.

Yoko Sagae mengingatkan bahwa anak-anak tidak memiliki pandangan untuk masa depan mereka. Mereka hanya paham bahwa mereka berada di sini saat ini, dan mereka melakukan semuanya terburu-buru seakan-akan itu adalah sebuah kesempatan terakhir.

**

Disarikan dari artikel Words To Live By, Japan Times.


Blog EntryPoin Pendidikan AnakAug 10, '08 6:35 AM
for everyone

~untuk mengingatkan diri sendiri~

LIMA POIN PENDIDIKAN DALAM ISLAM

Oleh Siti Aisyah Nurmi

Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.

Hal pertama Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.

Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)

Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.

Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:

Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.

Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.

Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.

Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.
Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.

Hal ketiga adalah memilih metode pendidikan. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.

Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.

Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).

Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.
Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

Ke lima, kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:
Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.

Insya Allah, Dia Akan Mengganjar kita dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)

Catatan:
- Lima Poin Pendidikan Anak: -1.Paradigma sukses-2.Mengenal Tahapan dan Sifat-3.Metode-4.Isi-5.Target.
- Buku Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) diterjemahkan dengan judul “Sistem Pendidikan Islam” terbitan Al-Ma’arif Bandung, dan buku Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam) diterjemahkan dengan judul Pendidikan Anak Dalam Islam.


Blog EntryRenovasi Besar Mesjid TersakralJul 29, '08 11:06 PM
for everyone
Berita dari gatra..

Proyek Abraj Al Bait di Sisi Selatan (GATRA/Astari Yanuarti)Suara klakson truk-truk pengangkut material bangunan membelah ratusan jamaah yang bergegas menuju Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, suatu siang di penghujung Juni lalu. Di tengah sengatan matahari gurun sepanas 44 derajat celsius, para jamaah menepi sembari menutup hidung. Mereka terkepung kepulan debu pekat dari roda truk yang menjejak tanah tak rata akibat reruntuhan gedung.

Mobil pemadam kebakaran terlihat beberapa kali menyemprotkan air untuk mengurangi debu. Tapi upaya itu malah membuat sebagian jamaah yang berasal dari Indonesia ekstra hati-hati. "Awas kubangan, lompat sedikit, ya, Bu," seru seorang jamaah perempuan sambil memegang erat lengan sang bunda yang sudah berusia lanjut. Selamat dari kubangan, mereka masih berusaha agar tak tersandung pada bongkahan besar-kecil rongsokan bangunan.

Belasan ribu bangunan hotel, rumah, toko, dan kantor, yang dulu memenuhi sisi barat daya hingga utara Masjidil Haram, kini nyaris rata dengan tanah. Suasana di lokasi seluas 230.000 meter persegi itu awut-awutan. Persis seperti zona perang. Bukit-bukit reruntuhan bangunan menyembul sepanjang tebaran mata. Beberapa gedung masih tegak berdiri, tapi nyaris tanpa dinding.

Ratusan truk, buldozer, dan crane milik kontraktor Saudi bin Laden terlihat hilir mudik. Sedangkan mesin-mesin pengungkit raksasa menjulang di angkasa, di sekeliling bangunan dan menara Masjidil Haram yang terbungkus kerangka besi. Semua ini membuat tampilan anggun masjid terluas di dunia itu seperti dalam kartu pos sama sekali tak terlihat.

Renovasi besar-besaran itu mulai berderap Mei lalu atas perintah Abdullah, selaku Penjaga Dua Kota Suci (Khadimul Haramain). Raja Abdullah ingin menambah 35% kapasitas Masjidil Haram. Pada saat ini, masjid seluas 356.000 meter persegi itu mampu menampung hingga 2 juta jamaah di dalam dan di halaman.

Proyek pengembangan keempat itu bisa dibilang yang terbesar. Menurut data dari Kementerian Urusan Kota dan Desa, yang dipublikasikan kantor berita KPA, Pemerintah Arab Saudi akan memperluas halaman masjid, membangun tempat parkir, dan memperluas lokasi sa'i antara Bukit Shafa dan Marwah menjadi tiga tingkat.

Pembangunan intensif juga terjadi di Mina, Musdalifah, dan Arafah, yang menjadi rangkaian tempat pelaksanaan ibadah haji. Tempat pelemparan jumrah ditata ulang demi keamanan jamaah. Jaringan transportasi subway juga akan dibangun mulai seputar Masjidil Haram hingga Arafah.

Proyek yang diperkirakan baru tuntas tahun 2020 itu bakal menyerap dana hingga US$ 100 milyar (Rp 920 trilyun). Gelontoran dana superbanyak ini mencakup pembangunan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel-hotel baru di Mekkah.

Sumber pendanaannya beragam, dari asing hingga dana internal Saudi yang tengah menikmati berkah melambungnya harga minyak dunia, yang nyaris menyentuh US$ 150 per barel. Meski proyek itu tergolong amat besar, para investor sama sekali tak ragu menanamkan modalnya. "Bagi mereka, tempat ini adalah safe haven yang menjanjikan keuntungan besar. Musim haji dan umrah rutin berjalan tiap tahun, dengan jumlah muslim dunia yang terus bertambah," kata Imad Awad, Head of Equity Capital Markets NBD Investment Bank.

Setiap tahun, jumlah jamaah haji mencapai 4 juta orang, plus belasan juta jamaah umrah. Selama lima tahun mendatang, jumlahnya meningkat hingga 10% setiap tahun. Data Kadin Mekkah menyebutkan, tahun lalu, belanja para jamaah haji dan umrah mencapai 10 milyar riyal (Rp 25 trilyun) di Mekkah saja.

Kehadiran 15-an juta jamaah itu tentu saja membutuhkan akomodasi tempat tinggal serta kesempatan beribadah yang nyaman dan memadai. Inilah salah satu landasan utama Raja Abdullah menggelar renovasi dan perluasan Masjidil Haram dan seluruh lokasi ibadah haji lainnya. Menurut Fahas bin Al-Jarboa, Wakil Sekretaris Jenderal Supreme Commission for Tourism in Saudi Arabia, megaproyek itu bakal mengubah seluruh kawasan seputar Masjidil Haram. "Kami berharap, ini juga akan mengubah Mekkah secara dramatis," kata Fahas.

Dramatis, karena pembersihan kawasan sekitar Masjidil Haram tak segan meruntuhkan bangunan megah hotel bintang lima dan empat sekalipun. Mulai Hotel Sheraton, Hotel Sofitel, Hotel Qurtuba, Hotel Zahret, Hotel Darkum, Hotel Talal, Hotel Firdaus Umrah, hingga Hotel Firdaus Mekkah, semuanya akan diratakan dengan tanah. Hotel-hotel ini, bersama bangunan perumahan lainnya, masuk areal seluas 587.250 meter persegi di seluruh Mekkah yang harus ditata ulang.

Jika ditotal, renovasi Masjidil Haram dan kota Mekkah dijalankan lewat 973 proyek baru. Terbagi menjadi beberapa wilayah, seperti 85 proyek di wilayah Syamiyah yang terletak di sisi barat laut hingga utara Masjidil Haram. Kawasan ini akan dipenuhi hotel bintang lima, pertokoan, pusat perbelanjaan, dan restoran.

Di sisi barat Masjidil Haram yang meliputi kawasan Jabal Umar dan Jabal Ka'bah dibangun hal serupa. Plus stasiun kereta api induk, areal parkir yang mampu memuat 12.000 mobil, pasar, dan fasilitas umum lainnya. Sebuah terowongan sepanjang 1.000 meter akan dibangun menembus Jabal Umar dan menyambung ke Jalan Ummul Qura.

Di sisi tenggara dan selatan, yang mencakup kawasan Jabal Khandama, dibangun hunian untuk menampung 240.000 orang. Salah satu proyek terbesar di kawasan ini adalah Abraj al-Bait. Proyek pembangunan tujuh menara pencakar langit ini selesai tahun depan dan sanggup menampung 65.000 orang. Di kawasan ini juga dibuat jalur pejalan kaki menuju Masjidil Haram, yang terhubung dengan dua jalan utama.

Meski perombakan besar-besaran kali ini diiringi dengan pembangunan fasilitas angkutan massal dan pelayanan publik lainnya, bagi sebagian ahli sejarah dan tata kota, perubahannya terlalu besar. Salah satu pihak yang keberatan adalah Sami Angawi, arsitek dan pendiri Centre for the Custodian of the two Holy Mosques Institute for Hajj Research. Sami menilai, mereka tengah menyaksikan detik-detik terakhir Mekkah tampak seperti pada saat diciptakan Tuhan dengan lanskap dan gunung-gunungnya.

Pemerintah Saudi ingin meratakan gunung-gunung di Mekkah supaya lebih banyak lahan datar. "Mestinya lanskap kota Mekkah tradisional tetap dipertahankan. Jangan hanya memikirkan bagaimana menampung sebanyak mungkin orang dan seberapa banyak uang yang bisa diperoleh," ujar Sami.

Beberapa pihak lain menyayangkan pembangunan gedung pencakar langit di sekitar Masjidil Haram itu. Sebab gedung pencakar langit itu akan menutupi pandangan dari Ka'bah dan landmark di sekelilingnya. Kondisi ini akan menghilangkan keseimbangan letak Masjidil Haram, yang secara filosofis dipandang sebagai contoh pusat keseimbangan dunia. "Alasan mereka bisa dipahami. Tapi, di sisi lain, kita butuh tempat untuk menampung jamaah," kata Lahem al-Nasser, seorang ahli perbankan Islam yang mendukung megaproyek perluasan Masjidil Haram itu.

Megaproyek ini juga memicu kenaikan harga properti di Mekkah. Kini harga tanah mencapai 250.000 riyal (Rp 625 juta) per meter persegi di kawasan sekitar Masjidil Haram. Nyaris dua kali lipat dari harga tanah di Monako, negara yang selama ini memiliki kawasan real estate paling mahal menurut data Global Property Guide. "Malah para pengembang mengira, harga tanah akan naik empat kali lipat hingga 1 juta riyal (Rp 2,5 milyar) per meter," ujar Imad Awad. Harga tanah yang paling mahal ini terletak di area yang bisa melihat langsung pemandangan Ka'bah.

Astari Yanuarti
[Internasional, Gatra Nomor 37 Beredar Kamis, 24 Juli 2008]

Blog EntryThe Story of StuffJul 5, '08 7:40 PM
for everyone
Entah berapa kali saya menonton film ini. Pertanyaannya selalu sama, saya bisa melakukan apa?

Ada banyak cara dan jalan untuk terlibat. Salah satunya, yang paling dekat dengan peran ibu, kurangi belanja. Nah, ini namanya sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Mengurangi frekuensi (dan kuantitas) belanja bukan hanya bagus untuk kantong, tapi juga baik untuk lingkungan.

Blog EntryTertarik Membuat Sandwich?Jun 20, '08 11:38 PM
for everyone
Saya tertarik membuatt roti isi. Apalagi karena kabarnya, di supermarket sulit ditemukan sandwich yang aman dimakan. Bapaknya anak-anak suka sekali membuat roti tawar sendiri. Suatu saat mungkin akan membuat sandwich yang lengkap seperti biasa dilihat di etalase supermarket.

Bagaimana cara membuat sandwich yang pas? Ada formula canggih yang bisa dipakai. Aslinya, formula ini ditemukan di Inggris. Tapi tidak ada salahnya coba untuk dipakai di negara lain. Ubah sedikit datanya sesuai keadaan.

Pilihan yang saya pakai adalah : roti putih, dipotong tipis, menggunakan margarine (kebetulan masih ada margarine merk Indonesia berlabel halal), tanpa acar (ayah bukan penggemar acar), keju yang dipakai adalah supermarket own brand mild cheddar, pakai lettuce dan tomat iris, dioles mayonnaise.

dan hasilnya : (sengaja tidak diterjemahkan, mohon maaf)
according to the west country sarniematic 6, the blueprint for perfect cheese sarnie is as follows:
white bread 10 mm
tomato 4 mm (4 slices of average tomato)
lettuce 3 mm (about 2 leaves)
cheddar 4.86 mm
mayo 2 mm (about 2 teaspoons)
margarine 1 mm (average spread thickness)
white bread 10 mm
The optimum thickness of supermarket own bread mild cheddar for your sarnie strata selection is 4.86 mm

Too good to be true.

Pertanyaannya sekarang: bagaimana caranya memotong keju setebal 4.86 mm?

ReviewReviewReviewWhen I Was A BabyJan 19, '08 10:05 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:Catherine Anholt
Seorang anak perempuan berusia tiga tahun, menyaksikan sang ibu mengeluarkan pakaian bayi, popok dan selimut, ingin mengetahui semua hal yang terjadi ketika ia masih bayi. Buku ini ditulis untuk anak penulis sendiri, tapi juga akan membantu anak lain untuk mempersiapkan diri menyambut adik baru.

Cerita dimulai ketika sang anak bertanya pada ibunya yang sedang melipat baju. Ia menanyakan baju apakah itu. Ibunya menjawab bahwa itu adalah baju bayi, baju yang dipakai sang anak ketika baru lahir. Dialog kemudian mengalir dengan pertanyaan anak yang dijawab sang ibu tentang hal-hal yang terjadi saat ia bayi. Apa yang dimakan, bagaimana ia mandi, apakah ia mengenakan popok, hingga peristiwa di ulang tahun pertamanya.

Seluruh cerita ditulis berdasarkan dialog ibu dan anak. Gambarnya sederhana, tapi sangat sesuai dengan cerita yang ditulis. Kekuatannya terletak pada bahasa dan ilustrasi yang mudah dipahami. Tak mengherankan jika buku ini punya kekuatan tersendiri, karena ditulis oleh seorang ibu untuk anaknya.

ReviewReviewReviewReviewReviewDunia KataJan 19, '08 10:01 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:M. Fauzil Adhiim
Menulis bukanah bermain kata-kata. Susunan kalimat yang indah bisa sangat membosankan kalau tidak memiliki makna yang kuat.

Kutipan itu adalah satu hal penting yang disampaikan Fauzil Adhim dalam buku ini. Buku setebal 235 halaman ini membahas banyak hal berkait dengan proses kreatif dalam hal menulis – fiksi mau pun nonfiksi.

Isi buku dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, penulis buku best seller Indahnya Pernikahan Dini ini memaparkan pentingnya memiliki kekuatan jiwa dan sikap mental yang baik dalam menggerakkan kata. Bagian kedua menjelaskan langkah yang sebaiknya dilakukan untuk menjadi penulis hebat. Pada bagian terakhir, pembaca akan banyak belajar bagaimana caranya memberi makna pada kata.

Hal terpenting yang saya tangkap dari buku ini adalah belajar takkan memiliki makna tanpa melakukan. Karena itu, menulislah sekarang juga. Dan gerakkan dunia dengan kata-kata.

Blog EntryA Glorious CareerJan 19, '08 6:27 PM
for everyone

A woman named Emily renewing her driver's license at the County Clerk's office was asked by the woman recorder to state her occupation. She hesitated, uncertain how to classify herself.

"What I mean is," explained the recorder, "do you have a job, or are you just a...

"Of course I have a job," snapped Emily. "I'm a mother."

"We don't list 'mother' as an occupation... 'housewife' covers it," said the recorder emphatically.

I forgot all about her story until one day I found myself in the same situation, this time at our own Town Hall. The Clerk was obviously a career woman, poised, efficient, and possessed of a high sounding title like, "Official Interrogator" or "Town Registrar." "What is your occupation?" she probed.

What made me say it, I do not know... The words simply popped out. "I'm a Research Associate in the field of Child Development and Human Relations."

The clerk paused, ballpoint pen frozen in midair, and looked up as though she had not heard right.

I repeated the title slowly, emphasizing the most significant words. Then I stared with wonder as my pronouncement was written in bold, black ink on the official questionnaire.

"Might I ask," said the clerk with new interest, "just what you do in your field?"

Coolly, without any trace of fluster in my voice, I heard myself reply, "I have a continuing program of research, (what mother doesn't), in the laboratory and in the field, (normally I would have said indoors and out). I'm working for my Masters, (the whole darned family), and already have four credits, (all daughters). Of course, the job is one of the most demanding in the humanities, (any mother care to disagree?) and I often work 14 hours a day, (24 is more like it). But the job is more challenging than most run-of-the-mill careers and the rewards are more of a satisfaction rather than just money."

There was an increasing note of respect in the clerk's voice as she completed the form, stood up, and personally ushered me to the door.

As I drove into our driveway, buoyed up by my glamorous new career, I was greeted by my lab assistants - ages 13, 7, and 3. Upstairs I could hear our new experimental model, (a 6 month old baby), in the child-development program, testing out a new vocal pattern.

I felt triumphant! I had scored a beat on bureaucracy! And I had gone on the official records as someone more distinguished and indispensable to mankind than "just another mother."

Motherhood...What a glorious career! Especially when there's a title on the door.

Does this make grandmothers "Senior Research Associates in the field of Child Development and Human Relations" and great grandmothers "Executive Senior Research Associates"? I think so!!!

I also think it makes Aunts "Associate Research Assistants".

***
source: somewhere from the internet

Blog EntryMembuat Sendiri Makanan BayiDec 31, '07 1:08 AM
for everyone

Terdengar seperti merepotkan diri sendiri ya? Jaman sekarang sudah banyak makanan bayi instant. Rasanya juga bervariasi. Tinggal pilih, membuatnya mudah, hampir-hampir tidak merepotkan. Sudah begitu, banyak vitamin yang ditambahkan ke dalamnya. Sudah ada makanan sesuai tahapan usia bayi pula. Betul-betul praktis kan?

Makanan bayi yang banyak dijual di pasaran memang praktis. Tapi tahukah anda, bahwa membuat sendiri makanan bayi punya banyak keuntungan dan kelebihan?

Pendiri www.freshbaby.com, Cheryl Tallman dan Joan Ahlers, menjelaskan enam keuntungan yang akan diperoleh jika membuat makanan bayi sendiri. Tetapi, kelebihan itu hanya akan diperoleh jika makanan bayi dibuat dari bahan-bahan segar dan alami.

Kelebihan tersebut meliputi peningkatan nilai nutrisi, tanpa bahan tambahan, segar, menambah variasi, meningkatkan kontrol dan biaya yang rendah.

Makanan bayi dalam kemasan telah mengalami berbagai proses yang dapat menghilangkan vitamin dan mineral dalam produknya. Sebagai kompensasinya, produsen menambahkan vitamin dan mineral ini sesudah makanan diproses. Membuat makanan bayi sendiri, dengan cara yang tepat mampu mempertahankan vitamin dan mineral di dalamnya. Selain itu, warna dan rasanya pun lebih baik.

Ada banyak jenis makanan bayi instant yang mengandung gula, garam atau zat tambahan lainnya yang ditambahkan untuk meningkatkan rasa. Dengan membuat makanan bayi sendiri, penggunaan zat tambahan ini bisa dihilangkan. Makanan bayi yang murni tanpa bahan tambahan jauh lebih baik.

Memilih bahan yang segar dan alami untuk makanan bayi akan membantu anak mengenali beragam rasa dan jenis makanan. Kesegaran bahan tentu menyehatkan bayi, apalagi jika bahan yang dipilih juga adalah produk organic yang ditanam tanpa pestisida atau herbisida.

Produk yang dijual di pasaran dibuat dalam jumlah besar. Meski pun tersedia beberapa variasi rasa, tapi sebenarnya makanan yang dibuat sendiri dapat menghasilkan variasi yang jauh lebih banyak. Selain kombinasi rasa, makanan bayi juga dapat dikombinasikan teksturnya untuk menambah pengalaman bayi dalam menyantap makanan.

Menyiapkan sendiri makanan bayi, membuat kita mampu mengontrol apa saja yang masuk ke dalamnya. Keterlibatan penuh dari orang tua mulai dari bayi akan membantu membentuk kebiasaan makan yang sehat pada anak-anak.

Pada umumnya, membuat makanan bayi sendiri juga membutuhkan biaya yang lebih rendah daripada membeli makanan kemasan. Dengan bantuan freezer dan cetakan es, kita bisa membuat makanan bayi satu atau dua kali dalam seminggu. Sebagian makanan diletakkan dalam cetakan dan dimasukkan ke freezer. Tentu akan jauh lebih baik bila kita memberikan waktu untuk menyiapkan makanan segar setiap harinya.

 


Blog EntryMemilih Sepatu Untuk Si KecilDec 31, '07 1:03 AM
for everyone


Banyak ragam sepatu untuk anak balita di pasaran. Warna warni ceria, desain yang menarik, dan model beraneka. Pilihan yang bermacam-macam sering kali membuat bingung. Model saja tak cukup untuk menjadi pertimbangan. Masih ada berbagai persyaratan lain yang patut diperhitungkan dalam memilih. Yang perlu diingat, anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan. Kaki mereka masih akan berkembang sesuai usianya.

Hal-hal apa saja yang menjadi pertimbangan dalam memilih sepatu untuk balita? Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons, berikut beberapa hal yang perlu diingat dalam memilih:

-          Anak-anak tidak memerlukan sepatu hingga mereka belajar berjalan, sekitar usia 12 hingga 15 bulan

-          Pilih sepatu dengan sol yang lembut dan fleksibel, seperti sneakers

-          Pilih sepatu yang memiliku ruang cukup untuk perkembangan kaki. Sepatu itu harus cukup besar hingga si kecil dapat menggerakkan jempol kakinya saat memakai.

-          Jika anak sering melepaskan sepatu, mungkin sepatu itu kurang nyaman bagi mereka. Lihat apakah ada tanda-tanda kekurangnyamanan seperti lecet atau kemerahan pada kakinya.

 


Blog EntryRuang Untuk Diri SendiriDec 12, '07 2:48 AM
for everyone

Seorang dokter yang juga pemimpin redaksi sebuah majalah kesehatan, memilih menari sebagai sebuah jalan untuk mejadi diri sendiri. Ketika menari ia merasa lepas dari embel-embel yang lain, hanya dirinya sendiri. Sebelumnya, ia merasa terlalu jenuh. Pekerjaan menuntutnya untuk banyak melakukan aktivitas melelahkan. Tiba di rumah, sebagai seorang ibu dan istri, ia merasa kewajibannyalah untuk meluangkan waktu bersama keluarga. Ia merasa perlu untuk melakukan relaksasi sejenak, tapi waktu itu tak pernah hadir. Ketika kemudian ia tidak tahan lagi, ia memutuskan untuk menemukan ‘present moment’ yang pernah hilang karena terus menerus berkejaran dengan kegiatan. Dan pilihannya adalah menari. 

Ada artis dan presenter yang memilih untuk membaca dan menulis sebagai waktu untuk diri sendiri. Ketika ia melakukan itu, dunia menjadi miliknya. Ia tak bisa diganggu. Seluruh konsentrasi bisa tercurah pada buku yang dibacanya, dan ia akan tenggelam di situ. Buku, bagi pesohor itu, adalah sarana untuk datang dan pergi memasuki ruang di dalam dirinya.

Psikolog menyebut apa yang dilakukan dokter dan artis tersebut sebagai upaya penting untuk menemukan ruang bagi diri sendiri. Ruang-ruang seperti itu punya efek yang baik untuk memelihara fisik, mental dan jiwa seseorang di tengah hiruk pikuk persoalan hidup. Ibarat baterai, ia perlu untuk di-charge supaya dapat berfungsi optimal. Berada di ruang itu, seseorang akan merasa memperoleh energi baru untuk meneruskan aktivitas.

Setiap wanita perlu menemukan ruang untuk diri sendiri atau istilah lainnya adalah ‘me time’. Bukan hanya wanita yang bekerja, ibu rumah tangga juga perlu berada dalam ‘me time’ di waktu-waktu tertentu. Saat di mana seorang ibu menjadi dirinya sendiri, melakukan hal-hal yang menyenangkan hatinya dan membuat dirinya menjadi lebih baik untuk menjalankan kegiatan berikutnya.

Ibu rumah tangga sering kali terlalu tenggelam dengan pekerjaannya. Mengurus suami dan anak-anak, mengurus rumah, dan melakukan hal lain. Rasanya selalu ada saja pekerjaan yang harus diselesaikan. Baru saja selesai mencuci, sudah harus memasak. Ketika hidangan sudah tersaja, anak-anak menuntut untuk diperhatikan. Sambil menjaga anak-anak, rumah perlu untuk dibereskan. Ketika anak-anak tidur, setrikaan menunggu untuk dikerjakan. Selesai menyetrika, sudah ada lagi cucian kotor, mainan yang berantakan, kotoran di lantai yang perlu disapu, dan masih banyak lagi.

Berhentilah sejenak. Luangkan waktu untuk menjalankan kegiatan yang menyenangkan diri sendiri. Lakukan hal-hal yang membuat kita menjadi diri sendiri. Hal-hal yang membuat kita bersemangat menjalani hari-hari.
 
Barangkali ada yang merasa dapat mengisi kekosongan jiwa dengan melukis, membaca, menari, atau menulis. Ada sebagian orang yang menemukan dengan berdiam diri di ruang khusus dan merenung mampu memberikan seseorang waktu untuk bebas, lepas dari tuntutan pekerjaan, dan memberi energi baru yang mencerahkan. Ada yang pergi ke suatu tempat khusus, memanjakan diri sendiri dengan dipijat, atau berada di spa.

Apa pun pilihan kegiatan yang ingin dilakukan untuk mengisi ruang bagi diri sendiri, pastikan hasilnya adalah jiwa yang lebih bersemangat menjalani hari-hari selanjutnya.

 


Blog EntryGaji Ibu Rumah TanggaOct 26, '07 10:05 AM
for everyone

Berapa gaji yang selayaknya diterima ibu rumah tangga? Menurut sebuah situs, nilainya setara dengan 138 095 dolar amerika. Bagaimana bisa? Ya, situs tersebut mengadakan survey pendapatan beragam jenis pekerjaan dan membandingkannya dengan pekerjaan yang biasa dilakukan ibu rumah tangga.

Setidaknya ada sepuluh jenis pekerjaan yang dianggap mewakili keseluruhan tugas seorang ibu. Profesi tersebut adalah pembantu rumah tangga, guru tempat penitipan anak, koki, operator komputer, operator mesin cuci, petugas kebersihan, manajer, supir van, CEO dan psikolog. Banyak sekali ya? Apakah itu sudah mewakili semua? Barangkali ada orang yang beranggapan bahwa itu masih belum mewakili semua pekerjaan seorang ibu. Beberapa pekerjaan barangkali kurang cocok dengan kondisi selain di Amerika Serikat, tempat survey ini dilakukan.

Sebagai informasi tambahan, dalam proses penghitungan ini dipertimbangkan pula masa kerja para ibu yang sering melebihi jam kerja normal, atau istilah lainnya adalah lembur. Para ibu juga sering melakukan banyak pekerjaan sekaligus dengan jam istirahat yang singkat. Benar sekali bukan? Bangun tidur di pagi hari hingga terlelap di malam hari, selalu saja ada pekerjaan yang harus dikerjakan.

Sebuah informasi yang menyenangkan hati. Bahwa secara materi, pekerjaan yang saya lakukan ternyata layak memperoleh penghasilan yang besar. Saya beranggapan bahwa upaya ini dilakukan untuk menghargai apa yang dikerjakan para ibu. Meski pun begitu, yang dilakukan seorang ibu adalah sebuah pekerjaan dari hati, yang barangkali tak akan pernah bisa terukur dengan materi.

 


Blog EntryPhysical And Play QuotientOct 2, '07 3:29 AM
for everyone
Sebuah penelitian untuk mengetahui skor Physical and Play Quotient (PQ) yang melibatkan anak-anak di Indonesia, Thailand, Vietnam dan Jepang menunjukkan bahwa anak-anak Jepang unggul dalam hal kemampuan bermain olah raga. Anak-anak Thailand mendapat skor tertinggi untuk ketrampilan dan gerak sehari-hari. Bagaimana dengan anak-anak Indonesia? Dibanding tiga negara lain, Indonesia mendapat skor yang terendah untuk kemampuan yang diujikan.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa anak-anak Thailand dan Jepang menghabiskan waktu yang seimbang antara belajar, berolahraga dan santai pada hari kerja dan akhir pekan. Sedangkan anak-anak Indonesia menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk belajar dan kegiatan seperti menonton TV dan bermain game daripada berolahraga.

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Chulalangkorn, Thailand itu tak bisa disamaratakan untuk seluruh anak-anak Indonesia. Objek penelitiannya adalah anak-anak di Jakarta dan Surabaya, terutama kalangan menengah ke atas. Meski pun demikian, penelitian ini cukup penting bagi para orang tua untuk meningkatkan kesadaran pentingnya bermain bagi anak-anak.

Tidak mengherankan jika anak-anak Jepang dan Thailand memperoleh skor PQ yang lebih tinggi. Berdasarkan penelitian, hal itu merupakan konsekuensi dari kegiatan bermain di luar dan olahraga, juga keterlibatan mereka dalam melakukan tugas di rumah. Orang tua mereka memberikan keleluasaan pada anak untuk melakukan kegiatan itu.

Bila diperhatikan lebih lanjut, keadaan lingkungan di Jepang amat mendukung anak-anak untuk leluasa bermain. Mudah saja bagi kita untuk menemukan taman bermain dengan area yang cukup luas dan nyaman untuk anak-anak bermain. Komplek perumahan umumnya dilengkapi dengan taman bermain dengan perosotan, ayunan dan jungkat jungkit. Tidak sulit pula untuk menemukan lapangan olah raga. Sekolah dasar biasanya dilengkapi dengan fasilitas olahraga seperti lapangan yang luas atau kolam renang.

Penelitian yang sama menunjukkan bahwa orang tua berperan penting dalam mengembangkan PQ anak. Tampak bahwa orang tua Indonesia cenderung melarang anak-anaknya bermain, apalagi hingga membuat baju mereka kotor. Tidak seperti orang tua di tiga negara lain, orang tua Indonesia kurang membatasi waktu anak bermain game.

Apakah sebenarnya pengertian physical and play quotient (PQ) itu? Dalam arti yang luas, PQ berarti kemampuan anak untuk bermain dengan cara yang membantunya mencapai potensi fisik, kreatif dan intelektualnya. Pada tes PQ, dilakukan pengujian dengan melihat gerakan fisik. Gerakan fisik tersebut di antaranya adalah kemampuan mengontrol gerakan dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan mengontrol gerakan dan bertindak spontan, kemampuan memainkan olah raga permainan dan kemampuan mengontrol ketrampilan motorik umum.

Bermain sesuai pengertian PQ adalah bermain fisik dan merupakan kegiatan yang melibatkan seluruh indera. Bermain juga harus menyenangkan. Meski pun penting, tidaklah tepat untuk memaksakan anak bermain suatu permainan tertentu. Jika anak tak suka sepak bola, sebaiknya tidak memaksanya untuk bermain sepak bola.

Menurut Dr Mayke, psikolog anak dari Universitas Indonesia, selain manfaat bagi kesehatan, bermain fisik juga memiliki manfaat lain. Permainan yang melibatkan kelompok akan meningkatkan kemampuan anak bersosialisasi. Kemampuan perseptual anak juga terasah. Anak belajar ketajaman melakukan pengamatan visual. Selain itu, anak juga belajar untuk menyelesaikan masalah. Yang tidak kalah penting, bermain juga mengasah kepekaan anak terhadap lingkungan.


Blog EntryIbu Sepenuh Masa dan KepemimpinanOct 1, '07 5:03 AM
for everyone

Tahukah anda, bahwa kehidupan seorang eksekutif papan atas seringkali menggambarkan keadaan yang sama dengan seorang ibu yang sibuk? Mereka sama-sama harus berhadapan dengan krisis, menghadapi banyak hal dalam satu waktu, harus memusatkan pikiran dalam situasi yang tidak beraturan, dan masih banyak lagi keadaan yang serupa.

Ann Crittenden, mengemukakan hal tersebut dalam buku terbarunya, If You’ve Raised Kids, You Can Managed Everything. Banyak orang yang percaya, ibu dan ayah yang mampu menghadapi tantangan dalam menjalani peran mereka sebagai orang tua, niscaya akan mampu menghadapi banyak tantangan lain. Ann Crittenden menyatakan bahwa saran-saran yang ada di banyak buku laris tentang manajemen mirip dengan saran yang diberikan di buku-buku parenting. Karena itulah, kemampuan menjadi orang tua dapat diterapkan pula di dunia kerja. Selain itu, pelajaran kepemimpinan juga dapat dipelajari dengan membesarkan anak.

Salah satu pemimpin yang mengakui bahwa peran sebagai ibu sepenuh masa menjadi pembelajaran penting kepemimpinan adalah Ann Richards. Beliau adalah mantan gubernur Texas yang sebelumnya menjadi ibu rumah tangga selama 20 tahun.

Peran kepemimpinan yang dapat dipelajari dengan menjadi ibu rumah tangga sepenuh masa di antaranya adalah: multitasking, mengatur orang yang sulit, mengontrol diri sendiri, seni mendengarkan, kecerdasan emosional, negosiasi menang sama menang, etika dan integritas. Peran seorang Managing Director mirip dengan peran seorang ibu yang tinggal di rumah dengan banyak anak. Banyak kemampuan yang diperlukan dan yang terpenting adalah bagaimana memotivasi orang lain. Seorang ibu, kata Ann Crittenden, dengan demikian memiliki peran sebagai mentor, pelatih dan pemimpin yang baik.

Beberapa kiat manajemen yang dikemukakan Ann Crittenden adalah:

-          Buat prioritas. Jangan mempersoalkan hal yang kecil

-          Biarkan mereka berpikir itu adalah ide mereka.

-          Tidak memfavoritkan sesuatu. Anak-anak, pegawai, dan para pengikut sangat ingin dihargai dengan adil. Jika hanya ada satu kue, biarkan satu anak membaginya dan anak yang lain memilih untuk pertama kali.

-          Tidak mengeluh, mencari-cari alasan, lakukan saja pekerjaan anda.

-          Jangan mempermasalahkan sesuatu tanpa menawarkan solusinya

-          Beri pujian. Tidak ada yang terlalu tua untuk diberi penghargaan atas pencapaian mereka.

-          Dalam bernegosiasi, selalu mencari solusi menang sama menang.

-          Dengarkan dengan baik-baik dan penuh hormat semua orang

-          Jangan memaksa untuk memperbaiki segalanya

-          Selalu ucapkan tolong dan terima kasih

-          Miliki pandangan jauh ke depan. Roma tidak dibangun dalam satu hari, anak-anak juga tidak tumbuh dalam satu malam saja.

****

note: harusnya ini masuk di review ya? sayangnya saya belum baca buku di atas. Kabarnya di amazon tidak ada stok. nasib.



Blog EntryKepala dan KecerdasanSep 7, '07 5:37 AM
for everyone

Untuk mengetahui apakah seorang anak cerdas di masa depan, bisa dilihat dari besaran lingkaran kepalanya. Bila anak baru lahir memiliki lingkar kepala 32-36 centimeter, berarti anak berpotensi cerdas. Jika ukuran lingkar kepalanya di bawah 28 centimeter, anak cenderung bodoh dan di atas 36 sentimeter berpotensi mengidap hydrocephalus (otak yang membesar karena dipenuhi air).

Cara lain mengenali anak cerdas adalah kemampuan berkomunikasi atau berbicara. Bila anak bisa diajak bicara, bukan sekedar celoteh bayi yang tidak bisa dimengerti, sejak usia tujuh bulan, bayi tersebut bisa dikatakan cerdas. Kalau anak bisa berjalan sejak usia di bawah satu tahun, tapi belum bisa bicara jelas, tidak bisa dikatakan cerdas karena tidak ada hubungan kecerdasan dengan kemampuan berjalan lebih awal. (Koran Tempo, 23 Mei 2006)


ReviewReviewReviewReviewVCD Akhlak QuraniAug 7, '07 11:09 PM
for everyone
Category:Other
Tontonan yang sedang jadi favorit di rumah. Lagu-lagunya enak didengar, iramanya menarik. Liriknya mudah dipahami dan gampang dihafalkan.

Satu lagu yang sedang jadi kegemaran seluruh keluarga --dinyanyikan hampir setiap hari-- adalah "Belajar Wudhu." (Lupa judul pastinya, cmiiw.) Hafiz sudah hafal syairnya. Ia menyebut lagu ini dengan "Cuci Tangan." Kalau sedang ingin menonton, katanya "Mau nonton VCD Cuci Tangan." Barangkali terinspirasi dengan syairnya, suatu kali Hafiz berhasil wudhu dengan urutan yang benar. Bisa jadi pelajaran berwudhu yang menyenangkan rupanya. Zahra juga senang dengan lagu ini. Ia akan memberi isyarat, memegang tangan kiri dengan tangan kanannya. Dan akan tersenyum mendengar saya menyanyikan lagu itu untuknya.

Saya akan lebih senang jika lagu "Peta Hidup Kita" - lagu yang jadi pembuka dan penutup di ketiga VCD produksi Akhlak Qurani - menggunakan bahasa yang baik dan benar di syairnya. "Diikuti" bukan "diikutin", "tidak" bukan "enggak." Saya mencoba menyanyikan lagu dengan syair yang diubah sedikit (maaf buat tim Rumah Qurani), ternyata masih bisa sesuai untuk nada yang ada.

ReviewReviewReviewMenyemai Cinta di Negeri SakuraAug 6, '07 11:34 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Nonfiction
Author:Lizsa Anggraeni dan Seriyawati
Sebuah buku tentang keseharian yang ringan dan menghibur. Keseluruhan tulisan punya benang merah yang jelas: muslim dan Jepang. Buat saya, buku ini: Jepang banget deh :)
Cerita yang disuguhkan ditulis dengan gaya bertutur yang enak dinikmati. Gaya penulisan keduanya juga mirip.

Kalau boleh tanya ke penulis, yang menulis bagian intermeso siapa ya? Rasanya agak aneh membaca bagian awalnya. Terutama bagian "Pendatang asing cukup berkembang di negara Jepang."

Yang juga kurang pas, adalah pemilihan foto untuk ilustrasi. Dua yang saya ingat misalnya gambar suasana sebuah supermarket dan suasana di kereta listrik. Sudut pengambilan gambar barangkali yang jadi penyebabnya.

Bagian lain, mungkin ada yang perlu direvisi kalau cetak ulang (mudah-mudahan). Di kata pengantar ditulis bahwa kedua penulis adalah ketua dan wakil ketua FLP Jepang (saya bingung pas baca, kayanya salah deh. Tapi juga gak pasti salahnya di mana.) Di bagian biodata penulis baru saya mendapat jawaban. Posisi yang tepat seharusnya adalah ketua dan sekretaris (betul begitu?)

Membaca biodata penulis, terutama biodata Mba Seri, ada kesalahan penulisan judul buku. Di situ ditulis, buku "Jepang, di sini Cinta Bersemi (Diary Kehidupan Dua Sahabat). Ketika membaca bagian itu, saya bertanya-tanya, ini buku yang mana ya? Mba Seri sudah menerbitkan dua buku kah? :)

Blog EntryKualitas Pendidikan Terbaik Di DuniaMay 9, '07 5:26 PM
for everyone
Di mana? Bukan di Jepang, apalagi Indonesia. Di masa lalu, saya pernah punya cita-cita untuk bekerja di satu perusahaan produsen ponsel yang jadi icon negara ini. Kemudian bermimpi pula dikirim untuk belajar di negara asalnya. Pada kenyataannya, satu-satunya hubungan dengan negara ini adalah bekerja di perusahaan milik orang Finlandia. Ah, nostalgia. Bagaimana kabar teman-teman di Findora ya?

*****

KUALITAS PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA
Oleh : Andri Aji Saputro

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki
peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa
karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.

Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu

Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada
kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru
dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru
sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka
tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru
mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya
ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang
menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!  Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka  butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai
kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.

Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich
Original message: 1001Buku.org

Blog EntryDan ia telah memberi banyak...Apr 11, '07 5:28 PM
for everyone

Indahnya Memberi

Oleh : Ust. Anis Matta

Cinta itu indah. Karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.

Para pencinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka : memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya begitu. Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu efek. Hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan. Seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama. Sebab, adalah hakikat di alam kebajikan bahwa setiap satu kebajikan yang kita lakukan selalu mengajak saudara-saudara kebajikan yang lain untuk dilakukan juga.

Itu juga yang membedakan para pecinta sejati dengan para pencinta palsu. Kalau kamu mencinta seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan padanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. la tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. la besar dan berbuah dari sinar cahayamu.

Para pencinta sejati tidak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencinta seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Setiap satu rencana memberi terealisasi, setiap itu satu bibit cinta muncul bersemi dalam hati orang yang dicintai. Janji menerbitkan harapan. Tapi pemberian melahirkan kepercayaan.

Bukan hanya itu. Rencana memberi yang terus terealisasi menciptakan ketergantungan. Seperti, pohon tergantung dari siraman air dan cahaya matahari. Itu ketergantungan produktif. Ketergantungan yang menghidupkan. Di garis hakikat ini, cinta adalah cerita tentang seni menghidupkan hidup. Mereka menciptakan kehidupan bagi orang-orang hidup. Karena itu kehidupan yang mereka bangun seringkali tidak disadari oleh orang-orang yang menikmatinya. Tapi begitu sang pemberi pergi, mereka segera merasakan kehilangan yang menyayat hati. Tiba-tiba ada ruang besar yang kosong tak berpenghuni. Tiba-tiba ada kehidupan yang hilang tak berpenghuni. Tiba-tiba ada kehidupan yang hilang.

Barangkali suatu saat kamu tergoda untuk menguji dirimu sendiri. Apakah kamu seorang pencinta sejati atau pencinta palsu. Caranya sederhana. Simak dulu pesan Umar bin Khattab ini: hanya ada satu dari dua perasaan yang mungkin dirasakan oleh setiap orang pada saat pasangan hidupnya wafat : merasa bebas dari beban hidup atau merasa kehilangan tempat bergantung.

Sekarang bertanyalah pada pasangan hidup Anda tanpa dia ketahui. Jika aku mati sekarang, apakah kamu akan merasa bebas dari sebuah beban atau akan merasa kehilangan tempat bergantung? Kalau dia merasa kehilangan, maka dilangit hatinya akan ada mendung pekat yang mungkin menurunkan hujan air mata yang amat deras. Jika tidak, mungkin senyumnya merekah sambil berharap bahwa kepergianmu akan memberinya kesempatan baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

***.

Ia telah memberi banyak, saya dapat merasakan itu. Dengan caranya sendiri, saya tahu kalau ia sedang berusaha mengembangkan kuncup yang saya miliki agar menjadi bunga….

Ayah hafiz dan zahra, uhibbukafillah.

Memaknai langkah di hari memasuki usia ke 34 nya..-telat sehari deng...- sekaligus juga memaknai langkah di 4 tahun kebersamaan... masih panjang perjalanan, insya Allah..



Blog EntryTips Mendisiplinkan Anak Tanpa KekerasanApr 2, '07 7:21 PM
for everyone

1. Katakan dengan cara halus tetapi tegas

Biasanya orang tua mudah membentak kasar, atau memukul apabila anaknya tidak mau mendengar perintah orang tua yang telah berkali-kali diucapkan. Dalam situasi demikian, anda dapat berlutut sama tinggi dengan anak, pegang pundaknya, serta tatap matanya sambil secara halus teteapi tegas dan dengan kalimat pendek, berkata; misalnya: “Mama ingin kamu mandi sekarang juga.”

2. Tenangkan diri anda

Apabila anda sedang marah, ingin meledak dan memukul anak anda, tahan dan tarik nafas, serta masuk ke kamar terlebih dulu. Anda dapat berwudhu, berdzikir, atau dengan cara apa saja yang dapat menenangkan diri. Setelah anda tenang, biasanya anda akan mempunyai solusi yang lebih baik untuk menghadapi anak. Kemudian diskusikan dengan anak anda mengapa perbuatannya salah, dan minta anak untuk menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan.

3. Berikan anak anda konsekuensi

Apabila anak melanggar peraturan, beritahu anak bahwa perbuatannya salah, dan berikan tugas tambahan sebagai konsekuensinya. Misalnya, membersihkan kamar mandi, menyapu halaman, mencuci mobil dan sebagainya. Anak perlu mengetahui bahwa segala perbuatan yang melanggar aturan, ada konsekuensinya.

4. Berikan Pilihan

Berikan anak pilihan sebagai konsekuensi perbuatannya yang salah. Apabila anak terus membuat keributan dengan memukul kaleng menggunakan sendok, padahal anda sedang pusing, tanyakan pada anak: “Mama sedang pusing, apakah kamu bisa stop memukul kaleng itu, atau kamu harus keluar dan bermain halaman?” Apabila anak terus memukul kaleng tersebut, maka dengan halus tetapi tegas, gandeng ia keluar rumah. Jadi, anda tidak perlu membentak atau memukul anak.

5. Jangan melibatkan diri untuk konflik dengan anak

Sering terjadi orang tua mudah terpicu kemarahannya, atau ingin memukul ketika anaknya melawan, atau menjawab balik perkataan orang tuanya dengan kasar. Dalam situasi seperti ini, sebaiknya orang tua cepat pergi ke ruangan lain, dan secara kalem berkata, “Kamu boleh ketuk pintu kamar apabila kamu sudah siap meminta maaf atas kata-kata kamu yang tidak sopan terhadap mama tadi.” Jangan dekati anak sebelum anak meminta maaf. Cara ini akan membuat anak berpikir ulang atas perbuatannya, dan membuatnya merasa bersalah dan meminta maaf.

6. Beritahu anak sebelumnya

Seringkali orang tua menyuruh anak secara tiba-tiba, padahal anak sedang asyik dengan kegiatannya. Biasanya anak akan menolak dan merengek ketika disuruh, yang dapat memicu kemarahan orang tua. Sebaiknya orang tua memberikan tenggang waktu, sehingga anak lebih siap menerima perintah. Contoh:

Ibu: “Hari sudah sore, 5 menit lagi mandi ya…!”

Anak:”Aduh…lagi seru nih..”

Ibu: “Pilih 5 menit atau 10 menit?”

Anak: “10 menit lagi”

Ibu:”Baik, nanti ibu panggil setelah 10 menit”

7. Ubahlah cara pandang kita terhadap kelakuan anak

Anak-anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan senang mencoba hal-hal yang baru. Misalnya, anak berusia 3 tahun sedang melempar semua yang ada di atas meja: buku, pensil, kertas; ke lantai. Ketika ibunya melihat, ia memarahi dan memukul tangan anaknya, sambil berkata: “nakal…nakal” Anak kelihatan bingung, karena ia sedang gembira mendapatkan suatu ilmu baru; bahwa ternyata benda-benda yang ia lempar jatuhnya ke bawah. Anak-anak yang membongkar mainannya, sebenarnya mereka ingin tahu bagaimana bagian benda-benda yang tersusun menjadi sebuah rangkaian mainan. Maka, ubahlah persepsi anda bahwa anak tersebut nakal, tetapi sebaliknya, anak kreatif yang rasa ingin tahunya besar. Mungkin anda bisa membeli mainan yang tidak terlalu mahal, dan siapkan diri anda bahwa mainan itu akan dibongkar oleh anak anda. Semakin besar anak, semakin mengerti ia untuk tidak merusak mainannya.

8. Cari waktu untuk diri anda sendiri

Orang tua yang terlalu sibuk dan lelah, biasanya akan lebih mudah marah dan memukul anaknya. Para ibu yang habis waktunya untuk mengurus rumah tangga (mencuci, ke pasar, memasak, dsb), sering merasa lelah fisik dan mental. Oleh karena itu, penting sekali mencari waktu untuk diri sendiri, misalnya, membaca, olah raga, menonton film atau berdo’a.

-dari buklet Mari Kita Hentikan Kekerasan Pada Anak-

....ditulis ulang untuk mengingatkan diri sendiri....


Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help