:: Beyond Dreams ::

eva's posts with tag: tafakur

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag tafakur
Blog EntryMemaafkan, Derajat Kemuliaan DiriJun 13, '07 4:02 AM
for everyone
Dalam pengajian bulanan, ada diskusi menarik tentang memaafkan dan dimaafkan. Bagaimana memaafkan orang lain yang sudah berbuat kesalahan kepada kita? Sulit sekali rasanya memaafkan. Bagaimana pula jika kita yang berbuat salah kepada orang lain, dan ia tak mau memaafkan kesalahan kita itu?

Satu hal yang sangat perlu kita lakukan adalah berdoa. Berdoa agar dibukakan pintu hati kita untuk memaafkan orang dan berdoa agar orang lain --tempat kita berbuat salah-- dibukakan pintu hatinya untuk mau memaafkan kita.

Diskusi itu mengingatkan saya pada sebuah tulisan lama.

***

Memaafkan, Derajat Kemuliaan Diri

 

Kawan, ingatkah dengan kisah ini? Kisah saat Rasulullah menolak bantuan yang ditawarkan malaikat Jibril untuk menimpakan gunung kepada masyarakat Thaif yang telah menghinakan Rasulullah dan para sahabat. Sebuah sikap bijak yang menjadi salah satu bukti betapa Rasulullah sangat pemaaf. Kisah lain yang menjadi bukti mulianya Rasulullah karena memaafkan adalah saat beliau menjadi orang pertama yang menjenguk seorang kafir kala sakit, meskipun orang kafir itu adalah seseorang yang tidak bosan-bosannya meludahi Rasulullah setiap hari. Sungguh Allah-lah yang mampu memelihara hati sedemikian suci, jiwa sebegitu besar.

 

Memaafkan, menjadi kata yang yang mudah diucapkan, namun sedemikian sulit untuk dilakukan. Saya pernah merasa tersakiti karena candaan yang dilontarkan seorang teman. Sakit hati yang menyebabkan saya sulit berkonsentrasi. Berhari-hari, bahkan berbilang minggu, rasa itu masih sulit hilang juga. Sepertinya kehidupan saya tidak berjalan sebagaimana mestinya karena saya berulang-ulang ingat mengenai hal itu. Sulit sekali rasanya untuk memaafkan, meskipun memaafkan menjadi jalan untuk melupakan yang sudah terjadi, mengambil pelajaran dan hikmahnya, juga menjalankan kehidupan saya sebagaimana mestinya.

 

Andrew Matthews, penulis buku Being Happy, pernah menulis bahwa dengan tidak memaafkan orang yang menyakiti kita, satu-satunya orang yang akan dirugikan adalah diri kita sendiri. Tidak memaafkan berarti akan menghancurkan hidup kita. Untuk memaafkan seseorang, kita tidak perlu menyetujui apa yang mereka lakukan, kita hanya menginginkan hidup kita berjalan terus. Hal yang sebenarnya sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw berabad-abad lalu. Dibalasnya orang yang meludahi beliau setiap hari dengan kunjungan dikala orang itu sakit. Sebuah kemuliaan sikap cerminan pribadi berjiwa besar.

 

Seorang dokter di Amerika, Gerald Jampolsky bahkan mendirikan sebuah pusat penyembuhan terkemuka dengan menggunakan satu metode tunggal, yaitu rela memaafkan. Upaya ini dilatarbelakangi pengetahuannya bahwa sebagian besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain.

 

Merenungi makna subhanallah, kita tahu bahwa hanya Allah SWT yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat salah dan alpa. Seorang bijak pernah berkata, kesempurnaan manusia adalah dengan ketidaksempurnaannya. Bila sedemikian pentingnya peran memaafkan ini, mengapa kita begitu sulit untuk memaafkan orang lain?

 

Mudah-mudahan, kita diberi-Nya kelapangan hati untuk memaafkan  orang lain.


Blog EntryUpaya dan KelelahanApr 14, '07 5:14 PM
for everyone

Saya percaya, tidak ada usaha yang sia-sia selama dilakukan dengan niat dan cara yang benar. Ada kalanya, kelelahan datang saat hasil yang diinginkan belum tercapai. Jika diri sudah merasa letih, timbul pertanyaan, sudahkah upaya yang dilakukan dilandasi niat dan cara yang benar? Jangan-jangan kepayahan yang timbul akan sia-sia karena niat atau cara yang salah. Khawatir, tindakan yang dilakukan tidak masuk dalam hitungan amal. Tapi, kekhawatiran itu bukan menjadi alasan untuk tidak berbuat baik kan?


Blog EntryDi Telaga itu Rasul MenantiMar 30, '07 4:11 PM
for everyone

-artikel dari Majalah Tarbawi-

Meskipun telah tiada, namun kecintaan Rasul kepada kita tiada pernah pudar. Seringkali kita tak pandai membalas cinta. Bahkan seringkali kita tak tersadarkan. Padahal di sana, di padang mahsyar, ketika segenap kita disibukkan oleh urusan masing-masing, ketika matahari dengan sinarnya yang membakar hanya berjarak satu hasta dari atas kepala, cinta itu kembali hadir. Ya, hadir dalam sebuah telaga nan indah menyegarkan. Yang semua orang pasti berharap dapat mereguk airnya di tengah berbagai kesulitan yang mendera. Di sana, di telaga itu, Rasul menanti.

Sesungguhnya aku menunggu (kedatangan) kamu sekalian di telaga. Barangsiapa melewati, dia pasti minum. Barangsiapa minum, maka dia tidak akan dahaga selamanya." (HR al Bukhari)

Telaga al kautsar adalah kisah tentang kesinambungan cinta Rasulullah. Cinta itu terus mengalir. Hamparannya tidak terbatas sekat dunia atau pun akhirat. Bahkan menjelang Rasulullah wafat, kedalamannya tetap meliputi. Menjelang wafat beliau, ketika peluh sudah membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya, Rasulullah bertanya pada Jibril, "Apa hakku nanti di hadapan ALlah?"

Jibril menjawab, "Pintu-pintu langit telah terbuka. Para Malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu." Namun perkataan itu tidaklah menenangkan Rasulullah. Manusia mulia itu bertanya kembali, "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

Itulah wujud cintanya. Cinta itu tak pernah pudar. Sewaktu Izrail melakukan tugasnya dengan lembut, nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. Beliau kemudian berujar perlahan. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini. Ya Allah, dahsyat nian naut ini. Timpakan semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Saat itu, sewaktu Ali ra mendekati Rasulullah, terdengar ucapan lirih. "Ummatii, ummatii, ummatii. Umatku, umatku, umatku." Menjelang wafatnya Rasulullah tetap memanggil. Bukan kepada istrinya Aisyah, atau kepada putrinya Fatimah. Tetapi kepada kita, umatnya.


Blog EntryBelajar dengan BelajarMar 10, '07 3:09 AM
for everyone

Orang yang bersalah tapi menyadari

adalah lebih baik daripada

orang yang merasa dirinya selalu benar

Menggagalkan perbuatan baik karena takut riya

Adalah riya terhadap diri sendiri

Maka lakukanlah kebaikan dan jangan riya

Merasa diri suci adalah kekotoran

Merasa diri pintar adalah kebodohan

Merasa diri bodoh berarti harus belajar

Merasa diri hebat adalah kelemahan

Merasa tak punya dosa adalah kesalahan

Merasa diri banyak salah berarti harus bertobat

Semakin bertambah usia

Semakin bertambah pula ilmu dan pengetahuan

Tapi mengapa dosa dan kesalahan juga ikut bertambah?

Mempelajari sesuatu …

adalah berlatih untuk belajar

Dan mengajarkannya …

adalah belajar yang sesungguhnya

Kalau ada orang bodoh tetapi sombong

Itu wajar dan bisa dimengerti

Tetapi kalau ada orang pintar yang sombong

Kepintarannya patut dipertanyakan



-jiplakan dari situs percikan iman-


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help