Dalam pengajian bulanan, ada diskusi menarik tentang memaafkan dan dimaafkan. Bagaimana memaafkan orang lain yang sudah berbuat kesalahan kepada kita? Sulit sekali rasanya memaafkan. Bagaimana pula jika kita yang berbuat salah kepada orang lain, dan ia tak mau memaafkan kesalahan kita itu?
Satu hal yang sangat perlu kita lakukan adalah berdoa. Berdoa agar dibukakan pintu hati kita untuk memaafkan orang dan berdoa agar orang lain --tempat kita berbuat salah-- dibukakan pintu hatinya untuk mau memaafkan kita.
Diskusi itu mengingatkan saya pada sebuah tulisan lama.
***
Memaafkan, Derajat Kemuliaan Diri
Kawan, ingatkah dengan kisah ini? Kisah saat Rasulullah menolak bantuan yang ditawarkan malaikat Jibril untuk menimpakan gunung kepada masyarakat Thaif yang telah menghinakan Rasulullah dan para sahabat. Sebuah sikap bijak yang menjadi salah satu bukti betapa Rasulullah sangat pemaaf. Kisah lain yang menjadi bukti mulianya Rasulullah karena memaafkan adalah saat beliau menjadi orang pertama yang menjenguk seorang kafir kala sakit, meskipun orang kafir itu adalah seseorang yang tidak bosan-bosannya meludahi Rasulullah setiap hari. Sungguh Allah-lah yang mampu memelihara hati sedemikian suci, jiwa sebegitu besar.
Memaafkan, menjadi kata yang yang mudah diucapkan, namun sedemikian sulit untuk dilakukan. Saya pernah merasa tersakiti karena candaan yang dilontarkan seorang teman. Sakit hati yang menyebabkan saya sulit berkonsentrasi. Berhari-hari, bahkan berbilang minggu, rasa itu masih sulit hilang juga. Sepertinya kehidupan saya tidak berjalan sebagaimana mestinya karena saya berulang-ulang ingat mengenai hal itu. Sulit sekali rasanya untuk memaafkan, meskipun memaafkan menjadi jalan untuk melupakan yang sudah terjadi, mengambil pelajaran dan hikmahnya, juga menjalankan kehidupan saya sebagaimana mestinya.
Andrew Matthews, penulis buku Being Happy, pernah menulis bahwa dengan tidak memaafkan orang yang menyakiti kita, satu-satunya orang yang akan dirugikan adalah diri kita sendiri. Tidak memaafkan berarti akan menghancurkan hidup kita. Untuk memaafkan seseorang, kita tidak perlu menyetujui apa yang mereka lakukan, kita hanya menginginkan hidup kita berjalan terus. Hal yang sebenarnya sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw berabad-abad lalu. Dibalasnya orang yang meludahi beliau setiap hari dengan kunjungan dikala orang itu sakit. Sebuah kemuliaan sikap cerminan pribadi berjiwa besar.
Seorang dokter di Amerika, Gerald Jampolsky bahkan mendirikan sebuah pusat penyembuhan terkemuka dengan menggunakan satu metode tunggal, yaitu rela memaafkan. Upaya ini dilatarbelakangi pengetahuannya bahwa sebagian besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain.
Merenungi makna subhanallah, kita tahu bahwa hanya Allah SWT yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat salah dan alpa. Seorang bijak pernah berkata, kesempurnaan manusia adalah dengan ketidaksempurnaannya. Bila sedemikian pentingnya peran memaafkan ini, mengapa kita begitu sulit untuk memaafkan orang lain?
Mudah-mudahan, kita diberi-Nya kelapangan hati untuk memaafkan orang lain.